Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Selasa

HUKUM MEROKOK

Menurut Abdullah bin Abdurrhman as-Sanad, dalam bukunya nashihah al-Insan ala Isti’mal ad-Dukhan, rokok di kenal oleh bangsa Eropa seputar th. 915 H atau 1518 M, saat sekumpulan ahli mereka temukan tumbuhan “aneh” di Tobaco (Meksiko). Benihnya mereka bawa pulang serta dari sana menyebar ke beberapa daerah lain, termasuk juga ke lokasi negeri-negeri islam. Itu penyebab tak diketemukan pendapat ulama saat lantas perihal hukum merokok. 

Tetapi, lewat pemahaman perihal maqashid al-syari’ah (maksud agama) kita bisa tahu hukum merokok serta persoalan-persoalan “baru” yang lain. Maksud tuntunan agama yaitu pelihara lima hal pokok, yakni ajaran agama, jiwa, akal, harta, serta keturunan. Tiap-tiap kesibukan yang mendukung satu diantaranya, pada prinsipnya dibenarkan atau ditolerir islam. Serta, demikian sebaliknya juga sekian. Pembenaran itu dapat mengambil hukum harus (bila tak dikerjakan berdosa), atau sunnah (disarankan, meskipun tak berdosa apabila diabaikan serta bila dikerjakan memperoleh ganjaran), atau mubah (bisa, terserah pilihan semasing pribadi, tidak ada dosa serta tidak ada pahala). Sedang tingkat larangan ada dua : makruh (disarankan untuk dijauhi serta saat itu dikerjakan yang berkaitan memperolah ganjaran, namun bila ditangani tak berdosa) serta haram (mesti diindari, serta bila tak, jadi pelakunya terancam siksa). 

Pandangan islam perihal rokok dan dalam kelompok apa ia diletakkan dari ke lima tingkatan hukum diatas. Ditetapkan oleh karakter rokok dan dampak-dampaknya untuk ke lima maksud pokok agama. Beberapa ulama condong menilainya rokok juga sebagai suatu hal yang mubah. Ini dikarenakan mereka tak atau belum tahu efek negative dari rokok. Dalam soal ini, mereka berdasar pada suatu kisah yang dikemukakan oleh adDaruquthni serta Abu Nu’aim bahwa Nabi saw. Bersabda, “Sesungguhnya Allah sudah mewajibkan kewajiban-kewajiban, jadi janganlah abaikan keharusan itu. Serta mengambil keputusan batas-batas, jadi janganlah melampauinya. Dan mengharamkan beberapa hal, jadi janganlah mendekatinya, serta meninggalkan (tak menyebutkan) beberapa hal, bukanlah lantaran lupa, karenanya janganlah anda membahasnya. ” 

Imam at-Tirmidzi serta Ibnu Majah meriwayatkan hadis sama, namun redaksi pada akhirnya yaitu : Serta ada juga beberapa hal yang didiamkannya bukanlah lantaran lupa tetapi lantaran kasih sayang-Nya, yang sekian yaitu beberapa hal yang dibolehkan-Nya. 

Ulama-ulama kontemporer banyak mengacu pada beberapa ahli untuk tahu unsur-unsur rokok, dan efeknya pada manusia. Atas basic info itu, mereka lantas mengambil keputusan hukumnya. 

Imam paling besar al-Azhar, Syaikh Mahmud Syaltut, menilainya pendapat yang menyebutkan bahwa merokok yaitu makruh, bahkan juga haram, lebih dekat pada kebenaran serta lebih kuat alasantasinya. 

Ada tiga argumen pokok yang jadikan pegangan untuk mengambil keputusan hukum ini. 
PERTAMA, sabda Nabi saw. Yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad serta Abu Dawud dari Ummi Salamah, “Terlaranglah semua suatu hal yang memabukkan serta melemaskan atau turunkan semangat. ” 

Seperti di ketahui, seseorang perokok bakal kecanduan dengan rokok, yang tampak dengan terang waktu dia tak memilikinya. 

KEDUA, merokok dinilai oleh banyak ulama juga sebagai salah satu bentuk pemborosan. Hal semacam ini tidak cuma oleh orang per orang yang beli sebatang dua batang, tetapi malah oleh pabrik-pabrik rokok yang keluarkan cost tak kecil untuk mempropagandakan suatu hal yg tidak berguna, bila malas berkata membahayakan. Juga pada cost penyembuhan untuk mereka yang menanggung derita demikian banyak penyakit disebabkan rokok. Agama melarang semua bentuk pemborosan. Jangankan dalam soal yang jelek, atau tak berguna, dalam soal yang baik juga dilarangnya, “Tiada pemborosan dalam kebaikan serta tidak ada kebaikan dalam pemborosan, ” sekian sabda Nabi saw. 

KETIGA, dari sisi efeknya pada kesehatan. Sebagian besar dokter, bahkan juga Negara, sudah mengaku efek jelek ini, hingga kalau tak ada teks keagamaan (ayat atau hadits) yang pasti menyangkut larangan merokok, jadi dari sisi maqashid asy-syari’ah telah cukup juga sebagai alasantasi larangannya. 

Tiga basic pemikiran diatas mengantarkan banyak ulama kontemporer pada rangkuman haramnya atau sekurang-kurangnya makruhnya merokok. Saya condong untuk memperketat larangan ini. 

Merokok di masjid terlarang lantaran aromanya bisa mengganggu orang lain, terlebih apabila disadari bahwa perokok pasif juga bisa terganggu. Larangan ini dianalogikan dengan sabda Nabi saw., “Siapa yang mengonsumsi bawang putih atau merah, sebaiknya dia menjauhi kami atau menjauhi masjid kami” 

Bila bawang yang dengan cara terang tak haram, bahkan juga dalam beberapa hal spesifik bisa jadi membawa efek positif untuk kesehatan terlarang pemakannya untuk mendekati masjid (lantaran masjid yaitu tempat umum), jadi yaitu lebih lumrah bila yang merokok juga dilarang untuk mendekati beberapa tempat umum. Lepas apakah ia mengganggu kesehatan atau tak. 

Sesaat ulama memfatwakan bahwa merokok, meskipun belum kecanduan, tak dibenarkan jadi imam dalam shalat serta jikalau ia jadi imam, shalat beberapa orang yang mengikutinya jadi tak sah. Sekian catat Ahmad al-Mubarak al-Huraibi, dalam bukunya, Atsar al-Mukhaddarat wa al-Musakkirat wa at-Tadkhim fi ash-Shihab wa ad-Din (hlm. 37 serta 48) wallahu a’lam