Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Rabu

AKU INGIN BERCERAI DARI PASANGANKU

        Sudah tersebar anggapan bahwa laki-laki yang memegang kendali dalam perceraian. Bercerai sering diasumsikan menjadi hak prerogatif laki-laki saja, padahal sesungguhnya perempuan juga memiliki hak untuk menuntut perceraian kepada hakim di pengadilan. Sebut saja namanya Masyamah, pukul 8.00 pagi itu, dia sudah terlihat duduk di kursi antrian setelah mengambil urutan sidang perceraian dari pasangannya, yang telah dilayangkannya ke pengadilan beberapa hari yang lalu.

        Tekad dan niat Masyamah sudah benar-benar bulat untuk mengakhiri pernikahannya. Nama Masyamah dipanggil untuk masuk ruang sidang. Di dalam sidang itu, Masyamah mengutarakan alasannya mengapa mengajukan gugatan cerai. Menurutnya, dia sudah tidak harmonis lagi dengan suaminya dikarenakan sering bertengkar dalam masalah-masalah kecil, yang berujung pada kekerasan yang dilakukan suaminya kepada dirinya.

        Gugatan cerai yang dilakukan istri, istilahnya adalah khulu' (perceraian yang diajukan istri). Allah Swt berfirman tentang hal itu dalam Al-Qur'an:

        "….Jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami istri) tidak dapat menjalankan hukuman-hukuman Allah, maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh istri untuk menebus dirinya. Itulah hukum-hukum  Allah, maka janganlah kamu melanggarnya. Barangsiapa yang melangar hukum-hukum Allah, mereka itulah orang-orang yang zalim". (al-Baqarah: 229)

        Dalam mediasi, seorang konsultan pernikahan memberikan nasihat, yang intinya meyakinkan untuk dilakukan rekonsialisasi atau ishlah dengan suaminya. Ayat di atas menjadi salah satu ayat yang dibacakan dalam usaha mediasi antara istri dan suaminya.

        Berbeda dengan Fauzan yang memunyai masalah dengan istrinya. Di pengadilan itu, Fauzan mengajukan talak cerai karena istrinya berperilaku tidak baik kepada ibunya. Tim mediator memberikan nasihat dengan membacakan ayat berikut ini kepada pasangan suami istri tersebut:

        "….Dan bergaullah dengan mereka secara patut. Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak". (an-Nisa: 19)

        Suami istri memang harus menyadari kelebihan dan kekurangan pasangannya. Meskipun ikatan pernikahan disebut Al-Qur'an dengan istilah mitsaqan ghalizha (ikatan yang kuat), tapi ketika satu ujungnya dipegang oleh suami dan ujung yang lain dipegang istri. Jika suami menariknya dengan keras, maka istri harus mengalah mengikuti irama tarikannya. Begitu juga, ketika istri menarik dengan keras, maka suami harus mengalah dan mengikuti tarikan istrinya.

        Jika tidak demikian, maka sehelai rambut itu akan sangat mudah putus dan terjadilah perceraian. Apalagi di zaman sekarang, saat godaan bertebaran di mana-mana. Wallahu a'lam.