Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Selasa

APAKAH ANDA TERMASUK ORANG YANG PENGHASILANNYA SELALU TIDAK CUKUP?

        Besar pasak daripada tiang, begitu orang sering mengibaratkan permasalahan ini. Upah minimum karyawan daerah dan kota berbeda-beda. Kebutuhan keluarga juga berbeda-beda. Dalam berumah tangga, wanita idealnya menerima berapa pun yang diberikan suami. Berikut ini adalah pertanyaan dalam sebuah konsultasi masalah keluarga.

        "Gaji suami saya hanya dapat menutupi kebutuhan sehari-hari saja. Saya ingin membantunya dengan bekerja di luar, tapi suami saya melarang dengan alasan suamilah yang berkewajiban memberikan nafkah keluarga. Kebutuhan lain semakin banyak dan saya bingung harus bagaimana".

        Apa yang Anda pikirkan? Kekurangan dan gaji suami tidak mencukupi lagi, menjadi sebuah masalah. Wanita penanya itu rupanya punya inisiatif baik, untuk membantu masalah keuangan keluarga. Namun, hal itu harus tetap dimusyawarahkan dengan suami. Gambaran suami istri dalam keluarga yang ideal memang seperti firman Allah Swt berikut ini.

        "Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkah sebagian dari harta mereka. Sebab itu, maka wanita yang salehah, ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)". (an-Nisa: 34)

        Kata(memelihara diri ketika suami tidak ada) menunjukkan wilayah kerja suami adalah di luar rumah, untuk mencari nafkah. Sedangkan istri berkewajiban menjaga di rumah. Namun, karena alasan ingin membantu ekonomi keluarga, akhirnya istri pun bekerja. Hanya saja, seyogianya diusahakan pekerjaan istri adalah pekerjaan yang dapat dilakukan di rumah, tanpa meninggalkan rumahnya. Hal itu sebagaimana yang dicontohkan Fatimah, putri Rasulullah Saw sekaligus istri khalifah Ali bin Abi Thalib, yang juga bekerja untuk keluarganya. Istri-istri semacam itu adalah istri yang salehah, sekaligus istri yang hafizhah lil ghaib.

        Kalaupun terpaksa bekerja di luar rumah, maka setelah suaminya mengizinkan, istri harus tetap menjaga syariat dan aturan Allah, serta sopan santun sebagai seorang perempuan. Tidaklah kita ingat, bagaimana kedua putri Nabi Shalih yang bekerja menggembalakan kambing di luar rumah orang tuanya. Ketika memberikan minum untuk ternak mereka dan berdesakan dengan para laki-laki, kedua putri itu memilih untuk menunggu sampai para penggembala laki-laki selesai semua. Putri itu pun tidak pergi sendirian, melainkan dengan ditemani oleh saudarinya. Firman Allah Swt menceritakan itu:

        "Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Madyan, ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya). Dan ia menjumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata,"Apakah maksudmu (dengan berbuat begitu)?" kedua wanita itu menjawab, "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum penggembala-penggembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang telah lanjut umurnya". (Qashash: 23)

        Jika setelah dikomunikasikan dengan suami, dia dapat memahami dan menyadari hal tersebut, maka tidak ada salahnya istri membantu suami dalam mencari nafkah. Nafkah itu akan dicatat sebagai amalan lebih bagi istri dan sebagai sedekah kepada suaminya, anak-anak, dan keluaraganya, yang semestinya semua itu menjadi tanggung jawab suami. Wallahu a'lam.