Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Rabu

KIRA-KIRA IDEALNYA PUNYA ANAK BERAPA, YA?

        Pada era orde baru, Soeharto mencanangkan program pembatasan jumlah penduduk yang semakin meningkat, sehingga disebarkanlah jargon "Dua anak cukup". Seiring era reformasi, sedikit demi sedikit, jargon itu meredup dan kini berganti dengan "2 anak lebih baik". Alfan yang bekerja sebagai PNS di salah satu dinas sosial itu berbincang-bincang dengan istrinya yang juga PNS di salah satu sekolah dasar negeri di desanya.

        Ada keinginan dari Alfan untuk memiliki anak yang lebih dari dua, yakni tiga atau empat, bahkan lima. Namun, istrinya menghendaki untuk memiliki dua anak saja. Maklumlah, bagi pegawai negeri, jumlah anak yang mendapatkan tunjangan, jaminan kesehatan, dan lain-lain, memang hanya dua. Namun sebagai suami, Alfan sebenarnya lebih berpikir idealis. Menurutnya, lebih banyak anak, maka banyak rezeki. Keyakinanya itu belum tergoyahkan.

        Permasalahan semacam ini memang sering dialami oleh pasangan suami istri, meskipun sesungguhnya anak adalah titipan Allah Swt dan hanya Allah yang berkuasa menentukannya. Betapa banyak orang yang merencanakan dan berharap mempunyai banyak anak, tapi Allah hanya memberinya dua anak saja. Sebaliknya, betapa banyak pasangan suami istri yang ingin membatasi jumlah anak, tapi Allah Swt berkehendak lain dan memberikan banyak anak.

        Memang benar, di dalam Al-Qur'an terdapat satu ayat yang seakan-akan dipahami sebagai dalil untuk membatasi anak, karena alasan khawatir dan ketakutan tidak dapat mengasuhnya. Allah Swt berfirman di dalam Al-Qur'an:

        "Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar". (an-Nisa: 9)

        Lemah dalam segi ekonomi menjadi salah satu alasan mengapa banyak pasangan suami istri membatasi anaknya, sehingga jumlah anak yang ideal menjadi sebuah permasalahan. Benar memang, ayat tersebut berkaitan dengan harta kekayaan, tepatnya tentang kekhawatiran bila meninggalkan keturunan yang tidak mendapatkan harta warisan, karena sudah diwasiatkan seluruhnya atau sebagian besarnya sudah dibagi-bagikan sewaktu dia masih hidup. Bagaimanapun, anak-anak harus dipikirkan juga kesejahteraannya dalam segi ekonomi dan materi.

        Namun, ada tafsir lain yang sebetulnya perlu dipertimbangkan. Kelemahan anak bisa jadi dalam hal lain. Anak-anak yang lemah dalam segi ekonomi, tapi lemah kualitas agamanya. Membekali anak dengan ilmu agama, selain menjadi sebuah kewajiban, hal itu juga jauh lebih berharga dan bermanfaat untuk anak-anak daripada harta.

        Perumpaannya mudah sekali. Anak yang diberikan harta kekayaan tanpa agama dan ilmu, akan menggunakan harta kekayaannya untuk hal-hal yang tidak diridhai oleh Allah Swt. Sedangkan anak yang diwarisi dengan ilmu dan agama, dia akan mecari harta kekayaan, lalu mengelolanya dan membelanjakannya untuk kebaikan dirinya dan orang tuanya. Ibaratnya, orang tua memberikan umpan dan kailnya, bukan memberikan ikannya.

        Intinya, dalam pandangan agama, tidak ada jumlah ideal tentang anak, apakah satu atau dua, atau mungkin lima, bahkan Sembilan atau sepuluh. Jika kita mengacu kepada perintah dari Rasulullah Saw dalam hadis-hadisnya, maka jumlah anak umat Islam haruslah banyak. Semakin banyak, semakin baik. Bukankah Rasulullah Saw bersabda dalam salah satu hadisnya:

        "Menikahlah dengan perempuan yang penuh kasih sayang dan banyak melahirkan anak, karena sesungguhnya aku akan berbangga dengan banyaknya kalian di hadapan umat-umat lain". (HR.al-Hakim)

        Sebagai pasangan suami istri seyogianya bermusyawarah untuk menetapkan keputusan yang terbaik masalah perekonomian keluarga, keyakinan, dan pendidikan yang akan diberikan kepada anak-anak kita. Semoga Allah Swt memberikan anak-anak yang saleh, baik, dan membanggakan kepada kita. Amin, ya rabbal 'alamin.