Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Senin

MENGAPA KAMI SELALU MISKIN?

        Miskin menjadi masalah banyak orang, tapi apakah sebenarnya miskin itu? Setidaknya miskin didefinisikan dengan kekurangan harta benda, tidak memunyai tempat tinggal yang layak untuk dihuni, tidak mendapatkan pendidikan wajib, serta akses kesehatan dan makanan yang bergizi. Ringkasnya, miskin adalah hidup di bawah garis penghasilan minimal yang dibutuhkan manusia secara layak dalam kehidupannya sehari-hari.

        Kali ini, Erni Wulandari, seorang istri bekerja sebagai ibu rumah tangga, yang hidup bersama Abdul Wahid yang bekerja sebagai tukang bangunan di kota Surabaya, Jawa Timur. Penghasilannya sebenarnya sudah cukup untuk menghidupi keluarganya yang baru dukaruniai dua anak. Namun, untuk menabung sebagai bekal menghadapi masa depan anak-anaknya, mereka belum mampu. Apalagi akhir-akhir ini Abdul Wahid sering periksa ke dokter akibat batuk-batuk menyerangnya.

        Masalah kemiskinan terjadi pada level dunia, negara, keluarga, dan bahkan pada orang yang masih bujang dan belum berkeluarga. Apa solusi Al-Qur'an menghadapi masalah ini? Sungguh, telah banyak dijelaskan di dalam Al-Qur'an bagaimana sebenarnya masalah kemiskinan ini harus diselesaikan. Tindakkah kita mendengar firman Allah Swt berikut ini?

        "Sesungguhnya zakat-zakat itu hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mualaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan , sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah dan Allah Maha Mengetahui lagi Mahabijaksana".(at-Taubah: 60)

        Ayat ini menjelaskan bahwa yang miskin berhak atas zakat si kaya.

        Ayat lainnya menyeru dan menyuruh untuk berderma kepada mereka yang miskin dan membutuhkan.

        "Maka berikanlah kepada kerabat yang terdekat akan haknya, demikian (pula) kepada fakir miskin dan orang-orang yang mencari eridhaan Allah; dan mereka itulah orang-orang beruntung". (ar-Rum: 38)

        Kembalilah memantapkan hati dan jiwa akan kebenaran firman Allah Swt dalam salah satu ayat-Nya yang suci ini:

        "Dan kawinkanlah orang-orang yng sendirian di antara kamu dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memampukan mereka dengan karunia-Nya. Dan Allah Mahaluas (pemberian-Nya) lagi Maha Mengetahui". (an-Nur: 32)

        Yakinlah bahwa dengan menikah dan punya anak, bukan berarti rezeki semakin habis, tetapi justru sebaliknya. Dengan menikah, sesungguhnya peluang untuk menjadi kaya itu lebih terbuka. Itulah setidaknya yang dijanjikan Allah Swt di dalam firman di atas. Permasalahan sesungguhnya adalah bagaimana kita memaknai kemiskinan itu? Bukankah Rasulullah Swt jauh-jauh hari sudah menyatakan dalam sebuah hadisnya:

        "Kaya berada di dalam hati dan miskin juga berada di dalam hati. barangsiapa yang rasa kaya itu berada di dalam hatinya, maka apa pun bentuk dunia yang dijumpainya, tidak akan membahayakannya. Dan barangsiapa yang miskin bersemayam dalam dadanya, maka sebanyak apa pun harta dunia yang dimiliki, tidak aklan mencukupinya. Tiada lain yang membahayakannya adalah kekikirannya". (HR. ath-Thabarani)