Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Rabu

WAH, KAPAN YA AKU MENJADI DEWASA?

        Pertanyaan ini sesungguhnya tidak hanya menunjukkan ketidakdewasaan, tapi juga menunjukkan masalah yang mendera jiwa seseorang yang melontarkan pertanyaan itu. Seorang remaja yang tumbuh secara normal tanpa masalah dalam perkembangannya, tidak akan menanyakan hal itu. Sebab, proses perkembangan dan kedewasaan itu akan berjalan secara alami.


        Dr. Abdurrahma al-Isawi mengatakan, bahwa pada masa menjelang dewasa, seseorang akan mudah larut dalam dimensi perasaan, idealisme, kemanusiaan, kecintaan pada dunia, atau sebaliknya. Tak heran pada masa-masa ini, kita melihat mereka mulai memiliki rasa kasihan kepada orang-orang yang  sudah lanjut usia dan tersia-siakan, korban perang, dan mulai tumbuh rasa cinta, termasuk cinta kepada lawan jenis.

        Perasaan mereka itulah yang kemudian mendorong munculnya pertanyaan," kapan ya, aku menjadi dewasa?" saat itu sesungguhnya seseorang belum menjadi pribadi yang dewasa. Mereka dikatakan baru mulai memasuki masa-masa dewasa. Mereka dikatakan baru mulai memasuki masa-masa dewasa. Ketika seseorang tidak mendapatkan jawaban atas perasaan, idealisme, dan kemanusiaannya itu, maka mereka akan cenderung bersikap realistis, mengukur segalanya dengan fakta dan kenyataan yang mereka hadapi.

        Menurut penulis, di sinilah konteks yang tepat untuk firman Allah Swt:

        "Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya. Sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu dan sesunguhnya merugilah orang yang mengotorinya".(asy-Syams: 7-10)

        Pada masa-masa menjelang dewasa dan saat seseorang mengalami permasalahan dan pertanyaan tentang kedewasaannya itu, pembentuk dirinya menjadi pribadi yang fasik atau bertakwa, diterapkan dan diaplikasikan dalam bentuk-bentuk jawaban-jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang sedang berkeliaran di alam pikirnya.

        Salah satu teknik yang dapat digunakan mengukur kedewasaan seseorang dalam perspektif Al-Qur'an adalah teknik dan ujian manajemen keuangan. Itulah kira-kira yang dapat disimpulakan sebagai inspirasi dari firman Allah Swt berikut ini.

        "Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. Kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. Dan janganlah kamu makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa…" (an-Nisa': 6)

        Dengan memberikan sejumlah uang diatur dan dibelanjakan oleh anak kita yang menjelang dewasa, kita bisa mengetahui dengan baik dan tidak membelanjakannya untuk hal-hal yang tidak bermanfaat atau kurang dibutuhkan, maka kadar kedewasaannya bisa dianggap sudah mencukupi. Namun, apabila belum mampu mengaturnya dengan baik, masih membelanjakannya untuk hal-hal yang tidak berguna atau kurang dibutuhkan, itu artinya kedewasaannya belum sempurna dan masih perlu dikembangkan lagi

        Perkembangan dari masa tamyiz kemudian baligh, belum dapat dijadikan ukuran sebagai masa perkembangan seorang anak dalam hal yang berkaitan dengan hukum-hukum formal syariat. Misalnya, jika sudah baligh, maka seseorang sudah dikenakan hukum halal, haram, wajib, sunah, dan sebagainya. Namun, untuk ukuran kedewasaan yang sering menjadi pertanyaan seseorang yang menginjak dewasa – menurut penulis – kurang tepat. Pertanyaan "Kapan ya, aku dewasa?" adalah pertanyaan yang jika tidak mendapatkan jawaban yang tepat dari oran g tua atau wali yang bertanggung jawab, maka hal itu akan menghantui anak dan bahkan dia akan mecari pembenaran atas tindakannya. Wallahu a'lam.