Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Senin

MUALAF SEBELUM WAFAT

        Ketika menjelang kewafatan Amr bin Al-'Ash, kami (Abu Syumasah) datang mengunjunginya. Lama dia menangis dan dihadapkannya mukanya ke dinding. Lalu puteranya mengucapkan, "Wahai bapakku! Bukankah Rasulullah saw. telah menyampaikan berita gembira kepada engkau begini dan begitu? Bukankah Rasulullah telah menyampaikan berita gembira kepada engkau begini dan begitu?"
   
     Lalu Amr bin Ash menghadapkan mukanya (memandang puteranya), mengucapkan,"Sesungguhnya apa yang telah kami anggap paling penting berkenaan dengan pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad itu Rasulullah, saya mengalami tiga tingkat peristiwa. Pada mulanya, saya menganggap bahwa tiada seorang pun yang paling benci kepada Rasulullah lebih dari pada saya, dan tiada yang lebih saya inginkan, selain dapat menangkapnya lalu saya bunuh. Kalau seandainya saya meninggal dalam keadaan demikian, tentu saya menjadi isi neraka".

        "Tetapi setelah Tuhan memasukkan Islam ke dalam hatiku, saya datang kepada nabi saw. dan mengatakan,"Kemukakanlah tangan kanan engkau, karena saya akan berjanji setia kepada engkau!". Lalu beliau mengemukakan tangan kanannya, lalu saya pegang dengan tanganku.

        Kata beliau,"Apa tujuanmu wahai Amr?"

        Saya menjawab,"Saya hendak mengemukakan syarat" (sebelum masuk Islam)

        Kata Nabi,"Apakah syarat itu?"

        Saya menjawab,"Supaya Allah mengampuni dosaku".

        Beliau bersabda,"Tidakkah engkau mengetahui bahwa Islam itu menghapuskan apa yang sebelumnya, hijrah itu menghapuskan apa yang sebelumnya dan haji itu menghapuskan apa yang sebelumnya?"

        Kata Amr,"Sejak itu, tiada seorang pun yang lebih kucintai, melainkan Rasulullah saw.dan tiada yang lebih mulia dalam pandanganku selain beliau. Sebab itu saya tidak sanggup membuka mata lebar-lebar memandang beliau karena hormat kepadanya. Kalau saya diminta untuk menggambarkan keadaan Nabi, saya tidak sanggup, karena saya tidak membuka mata lebar-lebar memandang beliau. Kalau sekiranya saya mati dalam keadaan yang demikian ini, tentu saya mempunyai harapan menjadi isi surga".

        "Kemudian itu saya memegang jabatan pemerintahan dalam beberapa urusan itu. Sebab itu kalau saya mati, janganlah turut dalam jenazahku, peratap dan api. Dan apabila aku telah kamu kuburkan, timbunlah tanah di atas kuburku. Kemudian berdirilah kamu sebentar di keliling kuburku, sekedar dalam masa binatang korban disembelih dan dibagi-bagikan dagingnya, sehingga saya masih bersama kamu dan memperhatikan apakah jawabanku kepada utusan Tuhanku" (HR. Muslim dari Ibn Syumasah)