Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Rabu

KISAH ISMAIL DAN AIR ZAMZAM

        Wanita yang pertama kali menggunakan ikat pinggang ialah ibu Isma'il (Hajar). Ia mengenakan ikat pinggang untuk menghilangkan jejak dari Sarah. Ibrahim membawa Hajar dan anak yang masih disusuinya, kemudian menempatkan keduanya di samping Baitullah di pohon besar di atas zamzam di atas masjid.

        Ketika itu, di Makkah tidak ada siapa-siapa dan tidak ada air. Ibrahim menempatkan keduanya di sana, dengan meninggalkan bekal berupa kantong berisi kurma dan wadah berisi air. Setelah itu, Ibrahim pulang. Hajar membuntuti Ibrahim dan berkata kepadanya, "Hai Ibrahim, engkau akan pergi ke mana? Engkau tinggalkan kami di lembah ini yang di dalamnya tidak ada manusia dan sesuatu apa pun?"

        Hajar berkata seperti itu hingga beberapa kali kepada Ibrahim, namun Ibrahim tidak menoleh kepadanya. Akhirnya, Hajar berkata kepada Ibrahim,"Apakah Allah yang menyuruhmu berbuat demikian?"

        Ibrahim menjawab,"Ya".

        Hajar berkata,"Kalau begitu, Allah tidak akan menelantarkan kami".

        Ibrahim terus berjalan. Ketika beliau tiba di tempat yang tinggi yang tidak bisa dilihat Hajar, beliau menghadapkan wajah ke Baitullah dan mengangkat tangan untuk berdoa,"Wahai Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanaman-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati. Tuhan kami, (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur"(QS. Ibrahim: 37)

        Di sisi lain, Hajar menyusui anaknya Ismail dan meminum air dari tempat air hingga airnya habis. Ia pun kehausan. Begitu juga anaknya, Ismail. Hajar memandang anaknya yang mulai berguling-guling di tanah. Ia tidak tahan kondisi anaknya yang seperti itu.

        Hajar mendapati Shafa, gunung yang paling dekat dengannya, berdiri di atasnya dan melihat ke lembah dengan harapan melihat seseorang. Namun ia tidak melihat siapa-siapa. Hajar turun dari Shafa hingga tiba di lembah. Ia mengangkat ujung pakaiannya, berlari seperti larinya orang yang kelelahan hingga melewati lembah tersebut, dan tiba di Marwa. Ia berdiri di atas gunung Marwa dan mencari-cari orang, namun tidak melihat sorang pun. Hajar berbuat seperti itu hingga tujuh kali.

        Ibn Abbas berkata, Rasulullah saw.bersabda,"Itulah sa'I manusia di antara keduanya (Shafa dan Marwa)".

        Ketika Hajar naik ke atas Marwa, ia mendengar suara yang berkata kepada dirinya,"Diamlah!" Hajar memasang telinga dan mendengar suara lagi. Ia berkata,"Engkau telah menyembunyikan suara, jika engkau mempunyai bantuan".

        Ternyata, Hajar bertemu malaikat di Zamzam. Malaikat tersebut memukulkan tumit ke tanah – atau menggerakkan kedua sayapnya – hingga air terlihat. Hajar membuat kolam untuk air tersebut dan mengisi tempat minumnya dengan air tersebut. Air tersebut tetap mengalir setelah ia megambilnya.

        Ibn Abbas berkata, Rasulullahsaw.bersabda, "Semoga Allah merahmati ibu Isma'il, jika dia membiarkan zamzam atau menciduknya, zamzam tetap menjadi mata air yang mengalir".

        Hajar meminum air tersebut kemudian menyusui anaknya. Malaikat berkata kepada Hajar,"Janganlah engkau takut, karena di sini terdapat Baitullah yang kelak akan dibangun anakmu ini dan ayahnya. Sesungguhnya Allah tidak menelantarkan wali-wali-Nya".

        Ketika itu, Baitullah berada di atas sebuah bukit. Banjir melanda Baitullah, kemudian mengambil apa yang ada di sebelah kanan dan kirinya. Hajar dalam keadaan seperti itu, hingga datanglah kabilah Jurhum – atau salah satu keluarga Jurhum – dari jalan Kida' dan berhenti di Makkah Bawah. Mereka melihat sekawan burung terbang melayang-layang. Mereka berkata,"Sekawanan burung tersebut pasti berputar-putar di atas air. Kita pernah datang ke lembah tersebut dan di dalamnya tidak ada air".

        Mereka mengutus seorang atau dua orang wakil yang kemudian pergi ke tempat tersebut dan melihat air. Sang utusan segera menemui rombongannya dan menjelaskan perihal air tersebut kepada mereka. Mereka datang ke tempat tersebut kepada mereka. Mereka datang ke tempat tersebut, ketika itu ibu Isma'il berada di samping air tersebut, dan berkata kepadanya,"Apakah engkau mengizinkan kami bertempat tinggal dekatmu?"

        Hajar menjawab,"Silakan, namun kalian tidak mempunyai hak atas air".

        Mereka berkata,"Ya".

        Ibn Abbas berkata, Rasulullah saw.bersabda,"Ibu Isma'il yang menyukai manusia menyetujui hal tersebut. Kemudian orang-orang Jurhum bertempat tinggal di tempat tersebut, pergi ke keluarga mereka dan membawanya bertempat tinggal bersama mereka di tempat tersebut". (HR. Bukhari dari Ibn Abbas)