Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Selasa

HALIMATUS SA’DIYAH

        Secara realitas status sosial, Muhammad lahir dalam kondisi yatim papa. Namun sudah menjadi sebuah tradisi, bayi Muhammad kemudian disusukan kepada orang lain guna mendapatkan penyegaran alam dan terhindar dari keramaian religius tersebut. Maka terpilihlah Halimah binti Abi Dhuaib, yang pada mulanya menolak permitaan itu. Walaupun demikian, dia sebenarmya tidak mendapat bayi susuan, sementara teman-temannya sudah mendapatkannya. Setelah berembuk dengan suaminya, Harits Abdul 'Uzza, akhirnya Halimah mau menerima dengan disertai harapan suaminya, "Mudah-mudahan karena itu Tuhan akan memberi berkah kepada kita".

        Kelahiran bayi Muhammad membawa "keberkahan" tersendiri bagi pengasuhnya. Hal ini yang dituturkan leh Halimah, sebagaimana yang dikatakan Ibn Ishaq,

        "Maka aku pun menemui bayi itu dan aku siap membawanya. Tatkala menggendongnya seakan-akan aku tidak merasa repot karena mendapat beban yang lain. Aku segera kembali menghampiri hewan tungganganku, dan tatkala putting susuku sodorkan kepadanya, bayi itu menyedot air susu sesukanya dan meminumnya hingga kenyang. Anak kandungku sendiri juga dapat menyedot air susunya sepuasnya hingga kenyang. Setelah itu keduanya tertidur pulas. Padahal sebelum itu kami tidak pernah tidur sepicing pun karena mengurus bayi kami. Suamiku menghampiri ontanya yang sudah tua. Ternyata air susunya menjadi penuh. Maka kami pun memerahnya. Suamiku bisa minum air susu onta kami, begitu pula aku, hingga kami benar-benar kenyang. Malam itu adalah malam yang terasa paling indah bagi kami.

        "Demi Allah, tahukah engkau wahai Halimah, engkau telah mengambil satu jiwa yang penuh barakah,"kata suamiku pada esok harinya.

        "Demi Allah, aku pun mengharapkan yang demikian itu". Kataku.

        "Kemudian kami pun siap-siap pergi dan aku menunggang keledaiku. Semua barang bawaan, kami naikkan bersamaku di atas punggung keledai tersebut. Demi Allah, setelah kami menempuh perjalanan sekian jauh, tentulah keledai-keledai mereka (teman-temanku) tidak akan mampu membawa beban seperti aku bebankan di atas punggung keledai.
Sehingga teman-temanku berkata kepadaku,

        "Demi Allah,begitulah. Ini adalah keledaiku yang dulu", kataku.

        "Demi Allah, keledaimu itu kini bertambah perkasa", kata mereka.

        Kami pun tiba di tempat tinggal kami di daerah Bani Sa'd. aku tidak pernah melihat melihat sepetak tanah pun milik kami yang lebih subur saat itu. Domba-domba kami datang menyongsong kedatangan kami dalam keadaan kenyang dan air susunya juga penuh berisi, sehingga kami dapat memerah dan meminumnya. Sementara setiap orang yang memerah air susu hewannya sama sekali tidak mengeluarkan air susu walau setetes pun dan kelenjar susunya kempes. Sehingga mereka berkata garang kepada para penggembalanya,"Celaka kalian! Lepaskanlah hewan gembalaan kalian seperti yang dilakukan gembalanya putrid Abu Dzu'aib". Namun domba-domba mereka pulang ke rumah tetap dalam keadaan lapar dan tak setetes pun mengeluarkan air susu. Sementara domba-domba kami pulang dalam keadaan kenyang dan kelenjar susunya penuh berisi. Kami senantiasa mendapatkan tambahan barakah dan kebaikan dari Allah selama dua tahun menyusui susuan kami.
Lalu kami menyapihnya. Dia tumbuh baik, tidak seperti bayi-bayi lain . Bahkan sebelum usia dua tahun pun dia sudah tumbuh pesat.

        Kemudian kami membawanya kepada ibunya, meskipun kami masih berharap agar anak itu tetap berada di tengah-tengah kami, karena kami dapat merasakan barakahnya. Maka kami menyampaikan niat itu kepada ibunya. Aku berkata kepadanya,

        "Andai saja engkau sudi membiarkan anak kami ini tetap bersama kami hingga besar. Sebab aku kuatir dia terserang penyakit yang biasa menjalar di Makkah".

        Kami terus merayu ibunya agar dia bekenan mengembalikan anak itu untuk tinggal bersama kami.

        Muhammad akhirnya tinggal di tempat Bani Sa'd hingga berumur empat atau lima tahun, tatkala terjadi peristiwa pembelahan dadanya.

        Masih dalam asuhan Halimah binti Abi Dzu'aib, Muhammad kecil didatangi malaikat Jibril, ketika itu sedang bermain dengan anak-anak kecil lainnya. Lalu Jibril memegangnya dan menelentangkannya, lalu membelah dada dan mengeluarkan hati beliau dan mengeluarkan segumpal darah dari dada beliau, seraya berkata,

        "Ini adalah bagian dari syetan yang ada pada dirimu". Kemudian Jibril mencucinya di sebuah baskom dari emas, dengan menggunakan air Zam-zam, lalu menata dan memasukkannya ke tempat semula. Anak-anak kecil lainnya berlarian mencari ibu susuannya dan berkata "Muhammad telah dibunuh!"

        Mereka pun datang menghampiri Muhammad yang wajahnya semakin berseri-seri.