Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Jumat

UJIAN KESABARAN NABI MUSA AS

        "Suatu saat Nabi Musa berbicara di hadapan kaum Bani Israil, lalu ada orang yang bertanya,"Siapakah orang yang paling banyak ilmunya?" musa menjawab,"Sayalah orang yang paling banyak ilmunya".

        Lalu Allah mencelanya, karena tidak mengembalikan kecukupan ilmu itu kepada Allah. Lalu Allah mewahyukan kepada 
        
        Musa, "Bahwa ada seorang hamba di antara hamba-hamba-Ku di pertemukan dua laut. Dia lebih banyak ilmunya daripada engkau". Musa berkata,"Wahai Tuhanku! Bagaimana supaya aku dapat bertemu dengan dia? "Lalu dikatakan kepadanya,"Bawalah ikan dalam kantong. Maka di mana engkau telah kehilangan ikan, di situlah dia".

        Ikan Keluar dari Kantong dan Jatuh Ke Laut

        Maka berjalanlah Musa, bersama dengannya turut seorang pemuda, Yusya' bin Nun. Lalu Musa membawa seekor ikan dalam kantong.

        Dia berangkat bersama pemuda itu dengan berjalan kaki, hingga keduanya sampai di sebuah batu besar.

        Kemudian Musa dan pemuda itu istirahat dan tertidur di tempat itu. Ikan itu bergerak dalam kantong, sehingga dapat keluar dari kantong dan jatuh ke laut. Allah menahan air mengalir pada ikan itu, sehingga merupakan suatu bulatan yang melingkar, dan menjadi lobang bagi ikan itu.

        Yang demikian ini untuk Musa dan pemudanya merupakan suatu keajaiban.

        Keduanya Kembali Setelah Jauh Melewati Tempat yang Dituju, Mengikuti Jejak Sebelumnya

        Lalu keduanya menggunakan sisa harinya, melanjutkan  perjalanan siang-malam, sedang kawan Musa lupa menceritakan kepadanya (tentang ikan yang telah meluncur ke laut). Musa belum letih sehingga dia melampaui tempat yang diperintahkan kepadanya  ( untuk menemui Khidhr).

        Setelah di pagi, Musa mengatakan kepada pemuda itu, "Bawa kemari makanan itu, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini".

        Pemudanya itu menjawab, "Adakah engkau ketahui, ketika kita berada di atas batu besar tadi? Saya melupakan ikan dan tiada yang menyebabkan saya lupa melainkan syetan untuk menceritakannya. Ikan itu telah mengambil jalannya ke laut dengan amat mengherankan".

        Musa berkata,"Itulah yang kita cari". Lalu keduanya kembali mengikuti jejak perjalanan sebelumnya. Keduanya mengulangi jejak mereka, hingga sampai kepada batu besar tadi".

        Musa Bertemu dengan Khidhr dan Minta Supaya Dibolehkan Mengikutinya

        Maka terlihat oleh Musa seorang laki-laki yang berselimut kain, lalu Musa memberi salam kepadanya. Khidhr menjawab,"Menjawab akan bisa selamat dari negeri engkau?"

        Musa berkata,"Aku Musa".

        Dia bertanya,"Musa Bani Israil?"

        Musa menjawab,"Ya!" Musa melanjutkan perkataannya,"Sesungguhnya engkau mempunyai pengetahuan, sebagian dari ilmu Allah yang diajarkan Allah kepadamu, sedang aku tiada mengetahuinya. Aku juga mempunyai ilmu, sebagian ilmu Allah yang diajarkan-Nya kepadaku yang engkau tidak mengetahuinya".

        Musa melanjutkan,"Bolehkah aku mengikuti engkau dengan tujuan supaya engkau mengajarkan kepadaku kebenaran yang diajarkan kepada engkau?'

        Khidhir menjawab,"Sesungguhnya engkau tidak akan sabar (tahan hati) bersamaku. Bagaimana engkau akan sabar terhadap sesuatu, yang engkau tidak mempunyai pengetahuan cukup tentang hal itu?"

        Musa berkata,"InsyaAllah engkau akan mendapati aku bersabar dan aku tidak akan membantah perintah engkau".

        Khidhir menjawab,"Kalau engkau mengikuti aku, janganlah ditanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun sampai aku sendiri menerangkan itu kepada engkau".

        Musa menjawab,"Baiklah".

        Khidhir Melubangi Dinding Perahu

        Maka berjalanlah Khidhir dan Musa di pantai laut, lalu bertemu dengan sebuah perahu dan berbicara dengan orang yang ada di dalam perahu, supaya keduanya diberi tumpangan. Mereka mengenal Khidhir, karena itu mereka bawa keduanya menumpang tanpa memungut bayaran. Kemudian Khidhir menuju dinding dari antara papan perahu dan dibukanya (dipecahkannya papan itu).

        Karena itu, Musa mengatakan kepadanya,"Orang-orang ini telah membawa kita menumpang tanpa bayaran. Engkau sengaja menuju perahu, lalu engkau lubangi, karena engkau hendak mengkaramkan isi perahu. Sesungguhnya engkau telah melakukan suatu pekerjaan yang jahat".

        Khidhir mengatakan,"Bukankah aku sudah katakan, bahwa engkau tidak akan sanggup bersama dengan aku?"

        Musa menjawab,"Janganlah engkau hukum aku karena kelupaanku, dan janganlah engkau perintahkan kepadaku perkara-perkara yang amat sulit bagiku".

        Khidhir Membunuh Seorang Anak Muda

        Kemudian keduanya turun dari perahu. Ketika keduanya berjalan menyusuri pantai di tepian laut, kebetulan bertemu dengan seorang anak muda yang sedang bermain-main bersama anak-anak muda lainnya. Lalu Khidhir memegang kepada anak muda itu, menariknya dengan keras dan dibunuhnya.

        Karena itu, Musa berkata,"Mengappa engkau bunuh orang yang tidak bersalah, bukan dengan sebab membunuh orang lain? Sesungguhnya engkau telah mengerjakan suatu pekerjaan yang salah!"

        Khidhir mengatakan,"Bukankah sudah aku katakan, bahwa engkau tidak sabar bersamaku?

        Musa berkata,"Ini lebih dari yang tadi. Kalau sekiranya aku masih bertanya kepada engkau tentang sesuatu sesudah ini, janganlah engkau biarkan lagi aku menemani engkau. Sesungguhnya engkau telah cukup memberikan kesempatan kepadaku".

        Khidhir Membetulkan Dinding Rumah Using yang Hampir Roboh

        Lalu keduanya melanjutkan perjalanan, hingga keduanya sampai pada penduduk suatu negeri, keduanya meminta kepada para penduduk supaya diberi makanan. Tetapi penduduk negeri itu tidak mau menerima keduanya sebagai tamu (yang mesti dilayani). Kemudian didapatinya di situ sebuah dinding yang hampir roboh (sudah miring), lalu diperbaikinya.

        Musa mengatakan,"Kaum ini, kita datang kepada mereka, tetapi mereka tidak menerima kita sebagai tamu dan tidak mau memberi kita makanan. Kalau engkau mau, tentu engkau dapat meminta bayaran (sebagai upahnya)".

        Khidhir menjawab,"Inilah perpisahan antara aku dengan engkau. Akan aku terangkan kepada engkau perkara yang tidak sanggup engkau sabar melihatnya".

        Adapun perahu itu adalah kepunyaan orang-orang miskin yang bekerja di laut, dan aku bertujuan merusakkan bahtera itu, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang merampas tiap-tiap perahu.

        Dan adapun anak itu, maka kedua orang tuanya adalah orang-orang mukmin, dan kami kuatir dia akan mendorong kedua orang tuanya kepada jalan kesesatan dan kekafiran. Dan kami menghendaki, supaya Tuhan mereka mengganti bagi mereka dengan anak yang lain yang lebih baik kesuciannya dari anak itu dan lebih dalam kasih sayangnya (kepada ibu bapaknya).

        Dan adapun dinding rumah itu adalah kepunyaan dua orang anak yatim di kota itu, dan dibawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang dibawahnya ada harta benda simpanan bagi mereka berdua, sedang ayahnya adalah seorang yang shalih, maka Tuhanmu menghendaki agar mereka sampai pada masa kedewasaannya dan mengeluarkan harta simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu, dan bukanlah aku melakukannya itu menurut kemauanku sendiri. Demikian itu adalah tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya".

        Rasulullah saw. kemudian bersabda,"Mudah-mudahan Allah memberi rahmat Musa. Sesungguhnya aku ingin kiranya Musa bersabar, sehingga dapat diceritakan kepada kita kisah keduanya berlanjut". Teguran pertama dari Musa hanyalah karena keluapaan.

        Kata Rasulullah,"Datanglah seekor burung hingga jatuh di ujung perahu, kemudian dia minum di laut. Lalu Khidhir mengatakan kepada Musa,"Tiadalah pengetahuan aku dan pengetahuan engkau mengurangi pengetahuan Allah, melainkan sebanyak apa yang dikurangi oleh minuman burung dari air laut". (HR. Bukhari dan Muslim dari Ubay bin Ka'ab)