Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Rabu

MADARASAH NIZHAMIYAH

                Lembaga pendidikan Islam pertama untuk pengajaran yang lebih tinggi tingkatannya adalah bait al-Hikmah (Rumah Kebijakan) yang didirikan oleh Ma'mun (830 M) di Baghdad. Selain berfungsi sebagai biro penerjemahan, lembaga ini juga dikenal sebagai pusat kajian akademis dan perpustakaan umum serta memiliki observatorium. Observatorium berfungsi sebagai pusat pembelajaran astronomi. Fungsi lembaga itu persis sama dengan rumah sakit, yang pada awal kemunculannya sekaligus berfungsi sebagai pusat pendidikan kedokteran. Akademi Islam yang pertama didirikan menyediakan berbagai kebutuhan fisik untuk mahasiswanya dan kemudian menjadi model bagi pembangunan akademi-akademi lainnya yaitu Nizhamiyah yang didirikan pada 1065-1067 oleh  Nizham al-Mulk, seorang menteri dari Persia pada era kekhalifahan Bani Saljuk. Madrasah Nizhamiyah dibangun sebagai pusat studi teologi (madrasah), khususnya mempelajari ajaran-ajaran Mazhab Syafi'i dan teologi Asy'ariyah. Di sekolah ini, Al-Qur'an dan puisi-puisi kuno menjadi sumber utama pengembangan dan pengkajian ilmu-ilmu humaniora dan satra ('ilm al-adab).  Para pelajar tinggal di asrama sekolah dan tidak sedikit di antara mereka yang mendapatkan beasiswa. Sebagian sejarawan mengatakan bahwa beberapa detail organisasi sekolah ini ditiru oleh  orang Eropa untuk membangun universitas-universitas yang pertama.

                Madrasah Nizhamiyah merupakan satu-satunya lembaga pendidikan teologi yang diakui oleh negara. Ibn al-Atsir mengisahkan suatu peristiwa tentang seorang dosen (mudarris) yang telah menerima surat kontrak namun belum bisa mengajar karena belum disetujui oleh Khalifah. Peristiwa itu bisa menjadi bukti bahwa  seseorang  bisa diangkat menjadi dosen di perguruan tinggi melalui kontrak yang telah disepakati. Setiap dosen memiliki 2 asisten, repetiteur (mu'id)   yang bertugas untuk mengulangi materi perkuliahan setelah  jam pelajaran selesai dan  menjelaskannya kepada murid yang belum paham dengan materi yang dipelajarinya.

                Di akademi Nizhamiyah inilah al-Ghazali mengajar selama empat tahun (1091-1095). Dalam satu sesi perkuliahan tentang pendidikan dan pengajaran—di sini ia memperkenalkan karya besarnya,  Ihya' 'Ulum al-Din, al-Ghazali mengkritik pandangan beberapa ulama yang mengatakan bahwa penanaman atau penyimpanan pengetahuan merupakan salah satu objek pengajaran. Al-Ghazali mementingkan stimulus kesadaran moral setiap anak didik dalam proses pembelajaran. Melalui karyanya itu, ia  merupakan masalah pertama yang mengungkap masalah pendidikan dalam satu kerangka sistem etika yang menyeluruh.

                Madrasah Nizhamiyah menjadi  model bagi pembangunan akademi-akademi lainnya yang tersebar di wilayah Khurasan, Irak  dan Suriah. Ibn. Jubayr mengatakan bahwa Baghdad sendiri terdapat tiga puluh sekolah; Damaskus—yang kemudian menikamati masa keemasan di bawah kekuasaan Shalah al-Din—terdapat dua puluh sekolah; di Mosul ada sekitar enam sekolah; dan di Hims hanya ada satu sekolah.

                Al-Ghazali mendapat gelar sebagai Hujjah al-Islam karena mampu menghafal 300.00 hadits. Imam Ahmad ibn Hanbal mampu menghafal 1.000.000 hadits. Dan al-Bukhari pernah diuji untuk menghafal seratus hadits, lengkap dengan rangkaian para perawi serta  mant (muatan) hadits-hadits itu. Kalangan lain yang menandingi para ahli hadits dalam hal menghafal adalah para penyair.

                Pendidikan tidak hanya dikembangkan dilembaga formal, tetapi juga di masjid-masjid yang terdapat di semua kota muslim. Selain sebagai pusat aktivitas keagamaan, masjid juga berfungsi sebagai pusat pendidikan penting. Ketika seorang tamu  mendatangi masjid, ia  bisa mengikuti perkuliahan tentang hadits. Fenomena semacam inilah yang kemudian ditulis oleh al-Maqdisi, ketika ia mengunjungi kota Susa. Ia menemukan berbagai halaqah  atau llingkaran-lingkaran pendidikan di Palestina, Suriah, Mesir dan Fasir. Ia juga menemukan sekelompok pelajar yang berkumpul mengitari seorang guru (faqih) , juga lingkaran para pembaca Al-Qur'an dan karya sastra di masjid-masjid. Imam al-syafi'i sendiri juga memiliki halaqah semacam itu di masjid 'Amr di kota Fusthat.

                Ibn Haqwal menyebutkan adanya  lingkaran belajar serupa di kota Sijistan. Materi yang disampaikan tidak hanya materi keagamaan, tetapi juga linguistik dan puisi. Setiap muslim bebas memilih materi kesukannya yang disampaikan di masjid-masjid yang bertahan hingga abad ke-11 dalam bentuk sekolah-sekolah Islam. Lingkar-lingkar belajar di dalam masjid itu mendorong terbentuknya pusat-pusat pendidikan di rumah-rumah para bangsawan dan kalangan masyarakat berbudaya yang disebut sebagai  majalis al-adab—secara harafiah berarti lingkaran sastra. Perkumpulan itu mulai muncul pada masa Abbasiyah. Di bawah kekuasaan para khalifah pertama Bani Abbasiyah, sering diselengarakan berbagai kontesa puisi, debat keagamaan dan konfrensi pendidikan.