Obat Asam Urat dan Awet Muda

Obat Asam Urat dan Awet Muda
Obat Asam Urat dan Awet Muda

Minggu

PENEMUAN ISLAM TENTANG ALAT TULIS

 KERTAS
Hingga awal abad ke-3 Hijriyah, bahkan yang umum digunakan untuk menulis adalah kain perca dan papirus. Kertas Cina mulai masuk ke Irak pada abad ke-3 Hijriyah. Setelah itu industri itu menyebar ke Irak. Pada masa pemerintahan al-Fadhl ibn  Yahya al-Barmaki yang pernah menjadi Gubernur Khurasan pada 794, pabrik kertas pertama berdiri di Baghdad. Ja'far, saudaranya menteri pada Khalifah Harun mengganti penggunaan kain perca dengan kertas  untuk menulis dokumen-dokumen resmi negara. Sebuah pabrik dibangun di Tihamah yang membuat kertas dari serat tumbuhan. Pada masa al-Maqdisi, kertas-kertas produksi Samarkand masih dianggap sebagai kertas yang terbaik sebagai kertas yang terbaik kualitasnya. Tetapi pada abad berikutnya, abad ke-11, kertas-kertas dengan kualitas yang sangat bagus diproduksi di kota-kota Suriah dan di Tripoli. Dari daratan Asia Tengah, industri itu mulai menyebar hingga ke  Delta Mesir sejak akhir abad ke-9. Beberapa kota di sana dalam jangka waktu lama selalu mengekspor papirus dari negara-negara berbahasa Yunani untuk media tulos menulis. Produk ekspor itu mereka sebut qarathis. Pada akhir pada abad ke-0, kertas menggantikan perca dan papirus di seluruh wilayah utama Islam.

Ternyata pembuatan kertas menandai sebuah  revolusi sosial di dunia Arab. Masyarakat muslim menggunakan kertas untuk membuat buku. Buku-buku inilah yang kelak menjadi sarana pengembangan ilmu pengetahuan pada abad pertengahan. Jutaan buku dihasilkan oleh peradaban Islam yang hasilnya masih bisa dilihat  sampai hari ini. Walaupun tentara Mongol menghancurkan kota Baghdad dan membuang buku-buku dari Bait Al-Hikmah, perpustakaan terbesar Dinasti Abbasiyah, namun sejumlah buku masih terselamatkan. Buku-buku demikian inilah yang menjadi khazanah dunia Islam sampai saat ini.

Kertas merupakan anugerah yang besar artinya bagi dunia Islam. Kertas telah menandai revolusi ilmu pengetahuan di dunia Islam. Pada masa itulah budaya literasi berkembang luas. Hal ini tidak terlepas dari teori etos menuntut ilmu  sebagaimana disabdakan Nabi Muhammad SAW. Membaca  dan menulis menjadi keseharian kaum muslim. Pada masa kejayaan Islam, buku merupakan barang yang tidak terkena pajak. Penyebaran buku ke seluruh dunia Islam menandakan penyebaran Islam sebagai agama yang menghendaki perubahan bagi pemeluknya. Seorang muslim sejati adalah  seorang pembaca atau penuntut ilmu.

Pada masa itu, umat Islam telah  menjadi "ahl al-kitab" atau masyarakat yang mempunyai kebiasaan membaca buku. Ayat-ayat pertama Al-Qur'an telah menjadi fondasi bagi berkembagnya budaya membaca dan menulis.  Lagi pula Al-Qur'an tidak akan bermanfaat jika pembacanya tidak memiliki ilmu.

Gagasan tentang 'ilm adalah gagasan yang paling kompleks di dunia Islam. 'Ilm bukan hanya pengetahuan tetapi juga komunikasi pengetahuan. Allah SWT menyuruh manusia menuntut ilmu  sebagai khalifah di muka bumi. Ayat-ayat Al-Qur'an dan Al-Hadis telah menyemangati umat Islam untuk menuntut ilmu baik ilmu agama maupun ilmu-ilmu umum. Kaum muslim pun mempelajari matematika, fisika, kimia, biologi, sampai astronomi.

Hal ini tidak mungkin terjadi jika penemuan kertas tidak terjadi di dunia Islam. Pada masa kejayaan Islam pada masa dinasti Abbasiyyah, pabrik-pabrik kertas ada di berbagai kota di dunia Islam seperti Damaskus, Kairo, Kordoba, Samarkand, Bukhara dan tentu saja Baghdad. Umat Islam menjadi umat terbaik di dunia karena kegemaran mengembangkan ilmu pengetahuan. Umat Islamlah yang mengembangkan pengetahuan yang tadinya bersifat parokialistik atau kenasionalan. Pada masa itu, masing-masing bangsa mempunyai ilmu pengetahuan sendiri-sendiri. Mereka menganggap ilmu ekslusif milik bangsa mereka sendiri. Setelah ditaklukkan bangsa-bangsa muslim, ilmu pengetahuan akhirnya dikembangkan masyarakat muslim dan disaring mana yang sesuai dengan Islam dan mana yang tidak.

Ilmu pengetahuan yang dikembangkan masyarakat Islam adalah ilmu pengetahuan yang berdasarkan keimanan kepada Allah SWT. Para cendikiawan muslim menyaring mana yang sesuai dengan Islam dan membuang yang tidak sesuai dengan agama Islam. Para cendekiawan Islam melakukan apropriasi yakni menerima ilmu pengetahuan dari mana saja namun tidak terlarut dalam budaya bangsa pemilik ilmu pengetahuan yang bersangkutan. Mereka memilah  dan memilih mana yang terbaik bagi umat Islam pada masa itu. Para cendekiawan muslim menguniversalkan ilmu pengetahuan  yang tadinya hanya dimiliki oleh  bangsa-bangsa tertentu saja.

Kertas, sekali lagi adalah peninggalan bangsa muslim yang sangat berguna sampai sekarang. Dengan kertas, berbagi informasi dari masa lalu bisa didapat, ditelaah, dan dipelajari. Kertas menghubungkan pemikiran dari generasi ke generasi. Kertas, menjadi sarana pewarisan ilmu  pengetahuan yang sangat penting. Dengan kertas, terdapat kebebasan ini sangat penting bagi pengembangan ilmu pengetahuan. Kertas, peninggalan peradaban Isalm ini, menjadi dasar bagi penemuan mesin cetak oleh Johonnes Gutenberg beberapa abad kemudian. Fungsi kertas tidak dapat disangkal lagi menjadi sarana komunikasi pengetahuan.

Kehancuran dinasti Abbasiyah oleh tentara Mongol mengakibatkan umat Islam tidak bangkit lagi hingga sekarang. Pada abad ke-19 para ulama Turki Usmani mengharamkan mesin cetak. Pengharaman ini berakibat bekunya dinamika keilmuan dan pemikiran di dunia Islam. Justru dunia Kristenlah yang paling maju dengan penemuan mesin cetaknya. Namun kini, peradaban Islam telah menerima peranan mesin cetak. Kitab-kitab lawas yang menjadi rujukan para ulama masih berupa kertas yang berwarna kuning.

Kemajuan teknologi dengan kehadiran internet mungkin akan menghancurkan peranan kertas. Namun, bagaimana pun, kertas tetap diperlukan, hanya akan kalah bersaing dengan internet. Ada perbedaan yang besar antara membaca di internet dengan buku. Meskipun kemajuan teknologi begitu pesat, namun membaca dengan media seperti laptop/komputer tetap tidak praktis dibandingkan dengan buku. Hal ini pernah di buktikan ketika ada penawaran pembelajaran dengan CD, kecenderungan si pembelajar enggan untuk belajar karena harus menyiapkan media seperti laptop atau komputer. Mata pun akan cepat lelah ketika membaca dengan media tersebut. Berbeda dengan buku, dimanapun dan kapanpun bisa segera dibuka dan dibaca sehingga lebih praktis. Dalam hal memahami bacaannya akan lebih mudah dipahami buku ketimbang dengan media elektronik. Terkadang ada beberapa kalimat yang terlewat sehingga akan mengurangi pemahaman materi yang dibaca.

 PENA / PULPEN

Catatan sejarah awal dari sebuah pena yang menggunakan reservoir kembali ke abad 10. Pada 953, al-Mu'izz Ma'ad, Khaliah Fatimiyah Mesir, menuntut pena yang tidak akan menodai tangan atau pakaian, dan  dilengkapi dengan tinta pena yang berada di reservoir (tabung penampung) dan dialirkan ke ujung pena itu. Pulpen ini mungkin disebut pena, tapi mekanismenya masih belum diketahui, dan hanya satu catatan yang telah ditemukan. Pena resevoir kemudian dikembangkan Tahun 1636 oleh orang Jerman bernama Daniel Schwenter.